RimbaBima: Sebuah Prolog dan Awal Mula

RimbaBima? Apa kaitan antara rimba dan bima? Mengapa judul artikel ini diakhiri dengan pemakaian istilah prolog yang biasa digunakan dalam sebuah drama?

Sebelum kita semakin dalam menelusuri hubungan keduanya, serta menemukan jawaban dari berbagai tanda tanya di akhir cerita, mari mulai dengan beberapa pertanyaan mendasar.

Apa yang kamu bayangkan saat mendengar kata “Rimba”?

Sebagian kita akan mengira sebagai sebuah daerah belantara yang dihuni berbagai binatang buas, seperti singa,  serigala, python, buaya dan sejenisnya. Atau suatu bentuk ekosistem yang masih jauh dari jangkauan dan campur tangan manusia. Atau hutan yang alami dan terjaga keasriannya.

Baca Lainnya : Menstrual Cup: Sahabat Lingkungan yang Berisiko Tinggi

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Pesona RimbaBima yang diambil dalam pelaksanaan kegiatan riset lapangan.
Pesona rimba yang masih jauh dari campur tangan manusia. (Dok: Nanda/LindungiHutan)

Lalu, bagaimana ketika kamu mendengar kata “Bima”?

Mungkin yang pertama kali terlintas adalah sosok sang Bima dari cerita mahabarata. Seorang yang terkadang disebut dengan Werkudara yang terkenal akan kesaktiannya. Atau nama aplikasi yang dirancang oleh salah satu operator penyedia layanan seluler di Indonesia, guna melakukan aktivitas pengecekan saldo pulsa dan pembelian kuota data.

Jika begitu, apakah ini kisah mengenai sang Bima yang tersesat di belantara rimba, dan menemukan 7 bidadari yang sedang bercengkrama dan mandi bersama?

Kita akan mundur sejenak untuk menemukan korelasi dan benang merah yang menghubungkan berbagai cerita menjadi gagasan yang diberi nama program RimbaBima. Kisah ini bukan mengenai kehebatan dan sejarah mahabarata. Bukan dongeng yang dibawa oleh tuturan nenek moyang kita. Melainkan hikayat yang menggambarkan latar belakang dari keseluruhan kisah yang kamu baca.

Permulaan Cerita

Rangkaian kata-kata yang saling bersambungan ini bermula dan berhulu dari program dayamaya. Dayamaya merupakan sebuah agenda yang diinisiasi oleh BAKTI Kominfo (Badan Aksesibiltas Telekomunikasi dan Informasi Kominfo) supaya menumbuhkan tingkat penetrasi penggunaan teknologi informasi di daerah 3T. Sejalan dengan visi BAKTI Kominfo dalam rangka menjembatani kesenjangan digital untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informatika untuk Masyarakat dan Pemerintah, Danny Januar Ismawan, memaparkan tentang capaian pemerintah membangun Palapa Ring. (Dokumentasi: Tim Dayamaya)
Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informatika untuk Masyarakat dan Pemerintah, Danny Januar Ismawan, memaparkan tentang capaian pemerintah membangun Palapa Ring. (Dok: Tim Dayamaya)

Melalui rangkaian kegiatan yang dinaungi oleh dayamaya ini agar mampu mengurangi ketidakseimbangan di dunia maya yang masih berlanjut. Untuk itu, perwakilan dari startup dan komunitas terpilih akan melakukan perjalanan guna riset maupun pendampingan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Sehingga pada masa mendatang, penduduk di “daerah pinggiran” dapat bersaing dengan masyarakat urban.

Pada pertengahan bulan Oktober tahun ini, LindungiHutan berkesempatan menjadi salah satu finalis. Bersama 17 komunitas dan startup lain, para pemenang yang berhasil menyingkirkan ribuan pendaftar yang tersebar dari berbagai daerah diundang mengikuti workshop di Jakarta. Acara dipersiapkan guna memberikan pemahaman kepada calon-calon #PenyebarKebajikan (meminjam tema yang diusung dayamaya).

Pelatihan berlangsung pada rentang 21-25 Oktober 2019 di Greenhouse Co-Working Space, Kuningan, Jakarta Selatan. Bermacam materi dan topik disampaikan dan disodorkan kepada perwakilan masing-masing juara mencakup aspek mendasar hingga substansial. Mulai dari sebab program dayamaya dicanangkan, mekanisme dan skema pelaporan keuangan, design thinking, pengaplikasian metode Participatory Action Research dan bermuara pada simulasi adaptasi budaya.

Timoti dan Pitor menjelaskan tentang materi PAR dalam pengambilan data penelitian. (Dokumentasi: Tim Dayamaya)
Timoti dan Pitor menjelaskan tentang materi PAR dalam pengambilan data penelitian. (Dok: Tim Dayamaya)

Mentor yang membawakan dan menyampaikan materi berasal dari berbagai profesional di bidangnya. Sebut saja Hadi Othman (CSO Kumpul) membawakan design thinking, Pepita Gunawan (Founder & Managing Director Refo) bicara mengenai OKRs, Sarani Pitor Pakan dan Timoti Tirta (Akademisi, Peneliti dan Author TelusuRI.id) yang mengulas mengenai PAR serta beberapa orang keren lainnya.

Ide Bias yang Tak Biasa

Di tengah runtutan kegiatan workshop yang saling berderetan, peserta harus mempresentasikan rencana proyek yang akan dijalankan. Sebagian diantara mereka mengutarakan gagasan-gagasan luar biasa mengenai aktivitas dan rancangan untuk meningkatkan daya saing masyarakat daerah dalam persaingan maya.

“LindungiHutan ingin mengambil konten sebanyak mungkin, tentang bagaimana harmoni yang terjalin antara manusia dan hutan. Isu yang fenomenal dan selalu diperbincangkan yaitu, apakah kelestarian dan kesejahteraan dapat berdampingan?! Karena sebagaimana kita tahu bahwa kebanyakan kasus yang ditemui menggambarkan kondisi yang jomplang diantara kedua aspek tersebut” papar Miftachur Robani alias Ben (CMO LindungiHutan) di depan peserta pelatihan dan perwakilan BAKTI Kominfo.

Miftachur Robani, CMO LindungiHutan, mengutarakan gagasan untuk project RimbaBima di hadapan peserta workshop dan perwakilan BAKTI Kominfo. (Dok: TIm Dayamaya)
Miftachur Robani, CMO LindungiHutan, mengutarakan gagasan untuk project RimbaBima di hadapan peserta workshop dan perwakilan BAKTI Kominfo. (Dok: Tim Dayamaya)

“Dengan harapan ketika terdapat contoh yang signifikan mengenai korelasi antar aspek sejahtera dan lestari di suatu daerah, akan timbul efek domino dari wilayah lain yang mengalami situasi serupa, yakni mampu beriringan tanpa merusak hutan tapi tetap hidup layak” lanjut Ben.

Dinamika pergolakan antara kubu “lestari” dan “sejahtera” memang merupakan hal yang krusial di tanah air.  Terutama bagi masyarakat rural yang cenderung mencari mata pencaharian dari bentuk-bentuk sektor tradisional seperti pertanian dan peternakan.

Situasi semakin memanas dengan gencarnya pemberitaan atas kerusakan alam dan pembabatan lahan. Setiap tahun, aktivitas pembukaan lahan dan kebakaran hutan seakan menjadi tradisi dan budaya yang “wajar” bagi kita yang tinggal di Indonesia.

Seorang anak laki-laki yang berdiri memandangi kebakaran hutan yang terus terjadi.
Seorang anak laki-laki yang berdiri memandangi kebakaran hutan yang terus terjadi. (Dok: Mongabay Indonesia)

Kebakaran yang terjadi bukan diakibatkan oleh gejala alam biasa, melainkan ulah campur tangan manusia. Pelaku tindak kejahatan dan penistaan terhadap alam tidak sekedar dilakukan oleh warga, melainkan menyangkut kepentingan korporasi dan pemegang kuasa.

Rutinitas yang seolah-olah tidak pernah berakhir dan mengikis nurani ini, selalu menimbulkan tanya tanya di benak kita, mengapa untuk harus mengorbankan kelestarian guna menggapai kesejahteraan? Terlebih penjelasan tersebut belum memberi pencerahan tentang apa kaitan Bima dengan semua?

RimbaBima: Pesona dan Dilema

Kata “Bima” yang terkandung dalam terminologi RimbaBima merupakan nama sebuah kabupaten dan kota yang terletak di ujung timur pulau Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat. Bima dapat merujuk kota Bima dan kabupaten Bima apabila dirunut secara administratif. Sementara menurut sejarah, penamaan Bima relatif berpolemik di antara sejarawan. Namun, hal ini tidak akan dibahas secara gamblang sebab bukan termasuk esensi ide RimbaBima tercetus.

Beberapa tahun belakang, kita mendengar arus pengalihfungsian lahan kawasan hutan di nusa tenggara gencar dan senantiasa menggelinding bagaikan bola salju. Semakin hari, bertambah besar pula daerah tutupan yang menjadi kawasan terbuka.

Foto yang diambil dalam pelaksanaan project RimbaBima. (Dok: Siktiyana/LindungiHutan)
Hamparan bukit yang dipersiapkan untuk ladang jagung di Bima, NTB. (Dok: Nanda/LindungiHutan)

Permulaan tahun 2019, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB memberikan pernyataan jumlah lahan kritis mencapai angka 760 ribu hektar. Hampir setengahnya terletak di kawasan hutan.

Fenomena seperti itu merupakan sebuah keprihatinan, sebab sebagian besar merupakan tanah milik negara yang dirampas oleh warga. Wilayah yang seharusnya menjadi milik bersama tersebut berganti kegunaan sebagai ladang jagung yang dikuasai oleh oknum yang menginginkan “kesejahteraan” dan membutuhkan perhatian dari segi kekayaan.

Bima, tak luput dari bentuk penjajahan baru yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Pada 2016 saja, luasan lahan kritis terbesar terletak di Bima. 27 persen atau lebih dari seperempat lahan kritis melingkupi wilayah kabupaten Bima. Sementara sisanya tersebar di sembilan kabupaten dan kota lain di NTB.

Pesona keindahan pemandangan alam Bima yang berbatasan dengan laut, kontras terhadap bukit yang gundul.
Pesona keindahan pemandangan alam Bima yang berbatasan dengan laut, kontras terhadap bukit yang gundul. (Dok: Siktiyana/LindungiHutan)

Meskipun begitu, bukan berarti seluruh warga Bima terjerumus dalam hegemoni “jagungisasi”. Diantara kerasnya pergolakan untuk mencari sesuap nasi, LindungiHutan menemukan artikel berita lama yang menggambarkan perlawanan kelompok masyarakat di Bima yang berusaha mensinergikan kelestarian alam guna menggapai kesejahteraan sosial.

“Karena berbagai pertimbangan inilah, LindungiHutan ingin mengabarkan kepada dunia bahwa tidak selalu kesejahteraan dan kelestarian berseberangan. Untuk menemukan bukti nyata, bukan sekedar asumsi atau opini”, tukas Ben di akhir presentasi.

RimbaBima: awal dan akhir

Jelaslah bahwa RimbaBima merupakan suatu pilot project yang dibentuk untuk menjadi pemantik bagi para pejuang konservasi lainnya. Kisah ini bukan mengenai Werkudara, atau aplikasi pengecekan kuota dan pulsa.

Cerita RimbaBima adalah bentuk perlawanan dan pembuktian. Menentang gagasan tentang kesejahteraan dan kelestarian yang seolah air dan minyak. Dan pembuktian mengenai hikayat yang nyata, bukan rekaan atau omong kosong belaka.

Artikel kolaborasi antara Muhammad Nana Siktiyana dan Nanda Oktavia Mega Utami, diterbitkan untuk pertama kali di Wanaswara: Suara dari Hutan.

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kami juga berpartisipasi dalam membantu pencegahan COVID-19 yang saat ini sedang menjadi pandemi dunia. Dengan kampanye #lindungidiri pada link berikut https://covid19.lindungihutan.com/, bantuan donasi dan keuntungan produk akan disalurkan melalui Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks