Pemberdayaan Masyarakat Dengan Ecobrick

LindungiHutan.com, Semarang. Sampah merupakan permasalahan lingkungan klasik yang ada di dunia. Permasalahan sampah di Indonesia berdasarkan data Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian LHK, Tuti Hendrawati Mintarsih, total sampah di Indonesia pada tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Sampah plastik memang menjadi momok tersendiri dalam pelestarian lingkungan. Banyak aktivitas yang melibatkan plastik di dalamnya, tetapi dampak dari banyaknya plastik yang ada juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Plastik merupakan material yang sulit terurai, butuh waktu panjang hingga sebuah plastik dapat dinetralkan oleh alam. Padahal, hampir setiap hari jumlah plastik terus bertambah

Ada banyak cara yang sudah dan sedang dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Seperti yang dilakukan oleh kelompok konsorium peduli hutan se-Kabupaten Pacitan yang berkumpul bersama mengadakan kegiatan pilah sampah plastik. untuk kemudian dibuat ecobrick dalam rangka gerakan nasional Indonesia menuju World Clean-up Day (WCD).

Ecobrick merupakan bata ramah lingkungan terbuat dari botol yang diisi dengan sampah plastik hingga padat. Pembuatan ecobrick sendiri ternyata tidak sebentar. Walaupun prosesnya terlihat sederhana, sebuah botol plastik ukuran 600 ml dapat diisi sekitar 250 gram sampah plastik atau setara dengan 2500 lembar plastik bungkus mie instan” jelas Russel Maier, pemerhati lingkungan asal Kanada yang menciptakan sistem ecobrick ini.

Pembuatan ecobrick dimulai dengan mengumpulkan sampah plastik yang keudian dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam botol kemasan bekas air mineral lalu dipadatkan. Kemudian barang bekas ini bisa dibuat berbagai bentuk seperti kursi, meja, almari, bahkan dinding penyekat ruang.

Ecobrick ini cukup kuat karena botol ini berisi sampah plastik yang dipadatkan,” kata Anita Bidaryati, leader WCD regional Jawa timur, Senin (02/07).

Gerakan Indonesia menuju World Clean-up Day khususnya di Pacitan ini selain dengan pelatihan pembuatan ecobrick, juga akan melakukan gerakan bersih sungai dan pantai pesisir selatan se-Pacitan. Isu besarnya akan dilakukan serentak sedunia pada 15 September 2018 mendatang. (Kika)

Referensi: Bangsa Online, Catatan Alam, Ultimagz