Mengapa Pemantauan Ekosistem Mangrove Penting?

Mengapa Pemantauan Ekosistem Mangrove Penting?

Ekosistem mangrove dikenal sebagai ekosistem yang unik, kompleks, dan juga strategis di kawasan pesisir. Ekosistem ini mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti suhu tinggi, salinitas tinggi, pasang surut ekstrem, sedimentasi tinggi, serta kondisi substrat tumbuh yang miskin oksigen atau malah tanpa oksigen (anaerob). Selain sebagai penopang terhadap keberlangsungan sistem ekologi yang berlangsung di dalamnya, mangrove juga memberikan manfaat untuk lingkungan di sekitarnya.

Ekosistem ini menjadi benteng dalam perlindungan kawasan pesisir dari bahaya angin kencang, gelombang tinggi, bahkan tsunami. Selain itu, mereka juga dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Dan sebagai bagian dari kawasan perairan laut, ekosistem mangrove juga ikut berperan dalam menentukan keberlangsungan hidup ekosistem terumbu karang dan lamun. Akar mangrove yang khas member perlindungan bagi ekosistem padang lamun dan terumbu karang dari bahaya sedimentasi. Dengan bentuknya yang unik tersebut, akar mangrove berfungsi untuk menyaring partikel-partikel besar, sampah, maupun limbah yang terbawa oleh aliran sungai. Oleh sebab itu, ketika mangrove dalam suatu kawasan rusak, maka dampaknya juga akan berimbas ke ekosistem lainnya.

Berbagai hal tersebut memberikan tanda bahwa upaya pelestarian terhadap ekosistem mangrove penting untuk dilakukan di berbagai negara, utamanya negara tropis dimana sebagian besar ekosistem mangrove berada.

Menurut Giri, dkk dalam artikel CIFOR pada 2011, Indonesia menjadi salah satu negara dengan wilayah hutan mangrove terluas di dunia. Sekitar tiga juta hektare hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia. Jumlah ini mewakili 23% dari keseluruhan ekosistem mangrove dunia. Di Indonesia sendiri, hutan mangrove dapat ditemukan di banyak wilayah, namun yang dianggap sebagai ekosistem mangrove penting ada di pesisir Papua, Kalimantan dan Sumatera.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat saat ini luasan ekosistem hutan bakau di Indonesia sekitar 3,7 juta hektar yang tersebar di 257 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Jumlah tersebut meliputi kondisi mangrove yang sudah rusak sebanyak 1,085 juta hektar yang terdiri dari 325.513,402 hektar berada di kawasan hutan dan 759.531,270 hektar berada di luar kawasan hutan.

Tekanan dari faktor manusia (anthroposentris) yang semakin tinggi terhadap ekosistem mangrove, menyebabkan semakin menurunnya kualitas ekosistem tersebut.

“Setiap tahun, sekitar lima atau enam persen hutan mangrove rusak atau hilang, baik yang disebabkan oleh konversi lahan hutan bakau, ilegal logging maupun pencemaran perluasan tambak,” kata Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Dr. Hilman Nugroho, saat berbicara dalam International Conference On Sustainable Mangrove Ecosystem, 18 April 2017 lalu.

Hilman menambahkan, hutan bakau merupakan ekosistem penting di dunia baik untuk perikanan serta konservasi ekosistem, apalagi hutan bakau dapat menyerap karbondioksida lima kali lipat dari pada hutan daratan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya pengelolaan untuk melindungi keberadaan ekosistem mangrove.

Kegiatan pengelolaan ekosistem mangrove meliputi keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan, antara lain adalah dengan pemanfaatan dengan perlindungan terhadap potensi yang ada.

Untuk mengetahui potensi di dalam ekosistem mangrove, perlu dilakukan identifikasi dan juga pemantauan. Identifikasi potensi mangrove yang dimiliki pada suatu kawasan merupakan langkah awal dalam pelaksanaan pengelolaan. Setelah mengetahui potensi yang ada, selanjutnya kita akan dapat menentukan kebijakan dan program pengelolaan yang akan dilaksanakan. Untuk memastikan kegiatan pengelolaan berjalan dengan baik, maka diperlukan evaluasi terhadap keberadaan dan kondisi ekosistem mangrove.

Foto: pksdmo lipi

Pemantauan kondisi ekosistem mangrove merupakan salah satu langkah awal evaluasi ekosistem mangrove melalui kegiatan identifikasi dan mengkaji kondisi potensi vegetasi mangrove secara reguler dalam periode waktu tertentu. Dari hasil pemantauan tersebut, harapannya dapat diketahui status kesehatan ekosistem mangrovenya. Status kesehatan ekosistem mangrove sangat penting untuk dipelajari, karena hal ini adalah sebagai dasar dalam penentuan kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove. (Kika)

 

Referensi: Times, Forestnews

Dharmawan, I Wayan Eka. Pramudji. 2017, Panduan Pemantauan Komunitas Mangrove Edisi 2, COREMAP-CTI LIPI. Bogor.

 

 

Leave a Reply