Melihat Wajah Hutan Indonesia Di Masa Depan

KEKAYAAN sumber daya alam Indonesia memang terkenal luar biasa, membuat Indonesia menjadi salah satu Negara paling beruntung di dunia. Salah satu keberuntungan itu adalah luasnya hamparan hijau hutan tropis dan hutan hujan (Rain Forest), yang mayoritas terdapat di pulau Kalimantan dan papua. Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan dan menjadikan hutan Indonesia menjadi hutan terbesar ketiga di dunia, sangat membanggakan.

Keadaan Hutan di Indonesia

Bagaimanakah sesungguhnya wajah hutan di Indonesia? Masih seindah dulu kah? Fakta yang cukup memprihatinkan melihat hutan Indonesia, pasalnya hutan Indonesia merupakan hutan paru-paru dunia. Data dari tahun ke tahun menunjukan penurunan yang signifikan. Dilangsir dari data kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, kehilangan tutupan hutan di Indonesia meningkat tajam di tahun 2012, yakni seluas 928.000 hektar (2,3 juta acre). Angka ini kemudian turun secara signifikan pada 2013 dan kemudian meningkat kembali pada 2014, yakni seluas 796.500 hektar Pada tahun 2015 tercatat areal terbakar seluas 2.611.411 ha, pada tahun 2016 seluas 438.363 ha dan tahun 2017 seluas 165.484 ha (data per Januari 2018).

 

Penyebab Kerusakan Hutan

Kerusakan hutan bentuknya ada bermacam- macam sperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di bagian atas. Kerusakan hutan ini bisa disebabkan karena proses alam secara alami maupun karena ulah manusia. Manusia sebagai makhluk yang paling leluasa untuk melakukan berbagai macam aktivitas di atas Bumi ini terkadang tidak sadar telah merusak hutan. Ada banyak sekali penyebab kerusakan pada hutan ini. Berikut ini merupakan penyebab kerusakan hutan yang berupa proses alam maupun aktivitas manusia:

  • Pembabatan hutan dengan sengaja

Pembabatan hutan ini menyebabkan matinya banyak pepohonan dan juga menyebabkan binatang- binatang kehilangan rumahnya. Manusia melakukan pembabatan hutan karena berbagai tujuan, salah satunya adalah pembukaan lahan baru untuk bercocok tanam maupun untuk pemukiman dan industri..

  • Pembakaran hutan dengan sengaja

Luas karhutla tahun 2018 berdasarkan groundcheck yang ditangani oleh Manggala Agni di daerah dan stakeholder lainnya sampai dengan tanggal 30 Januari 2018 adalah 130,34 ha. Pantauan Posko Dalkarhutla KLHK (hingga tanggal 30 Januari 2018 pukul 20.00), data hotspot dari Satelit NOAA menunjukkan 7 titik, sehingga total hotspot pada 1 – 30 Januari 2018 sebanyak 51 titik. Satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level 80% dan TERRA AQUA (LAPAN) confidence level 80% menunjukkan tidak terdapat hotspot di seluruh Indonesia. Sehingga total hotspot 1 – 30 Januari 2018, masing-masing 52 titik dan 58 titik. Dengan demikian, berdasarkan satelit NOAA untuk periode 1 Januari – 30 Januari 2018, terdapat 51 hotspot di seluruh Indonesia. Sedangkan periode yang sama di tahun 2017, tercatat 89 hotspot, terdapat penurunan 38 hotspot (42,69%). Penurunan sejumlah 44 titik (45,83%) juga ditunjukkan oleh satelit TERRA-AQUA (NASA) confidence level > 80%, yang mencatat 52 hotspot di tahun ini, sebelumnya di tahun 2017 tercatat 96 hotspot.

 

Pemantauan Hutan oleh Badan Negara

Sistematisasi pemantauan hutan di Indonesia dengan teknologi tinggi baru dilakukan oleh Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) sejak tahun 1986 atas kerjasama dengan Food and Agriculture Organization pada 1986 untuk mengembangkan program Inventarisasi Hutan Nasional (IHN). Kerjasama dengan FAO saat itu dilakukan untuk menyediakan informasi teknis mengenai lokasi dan luas tiap tipe hutan dan penggunaan lahan, serta menduga volume, pertumbuhan dan perkembangan tegakan menurut tipe hutan, jenis dan kelompok jenis. Inventarisasi Hutan Nasional kemudian dikembangkan lebih luas menjadi aktivitas pemantauan hutan nasional atau National Forest Monitoring System. Pemantauan diperkaya dengan penggunaan citra digital dari satelit dan pengayaan data spasial. Tiga aktivitas utama pemantauan hutan nasional yaitu penaksiran sumber daya hutan (Forest Resources Assesment), monitoring sumber daya hutan (Forest Resources Monitoring), aktivitas pengelolaan data spasial. Baru sejak 1990, pemantauan penutupan lahan seluruh Indonesia memanfaatkan citra satelit. Ketersediaan citra satelit dari berbagai sumber data yang ada memungkinkan untuk melakukan pemantauan penutupan hutan dengan menggunakan citra satelit resolusi rendah sampai resolusi tinggi.

Kebijakan Pemerintah Indonesia

Pemerintah Indonesia memberikan perindungan untuk Sumber Daya Alam Hayati dalam beberapa peraturan, diantaranya:

  • UU no. 5 th 1990 LN. th 1990 no. 49 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati & Ekosistem.
  • UU no. 41 th 1999 LN. th 1990 no. 167 tentang Kehutanan.
  • PP no. 7 th 1999 LN. th 1999 no. 14 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
  • PP no. 8 th 1999 LN. th 1999 no. 15 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
  • PP no. 45 th 2004 LN. th 2004 no. 147 tentang Perlindungan Hutan.
  • PP no. 44 th 2004 LN. th 2004 no. 146 tentang Perencanaan Hutan.
  • KEPRES RI no. 4 th 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia.