Mak Jah, Wonder Woman dari Pesisir Demak

foto kegiatan penanaman Bantu Mak Jah, Bersama Menghijaukan Indonesia

28 Oktober 2019, LindungiHutan bersama relawan kampanye alam Demak telah selesai melakukan penanaman mangrove di area sekitar pesisir Demak yang terkena dampak abrasi pantai.

Sebelumnya, LindungiHutan telah melakukan donasi kampanye alam untuk membantu Mak Jah cegah abrasi di pesisir pantai Demak dengan membeli bibit pohon mangrove dari Mak Jah. Tercatat telah kumpul 1,998 bibit pohon mangrove dari 111 donatur. Bibit pohon mangrove ini telah dialokasikan untuk daerah-daerah penanaman sekitar Kota Demak.

Antuisiasme relawan dalam aksi penanaman Bersama menghijaukan Indonesia dibilang sangat tinggi. Hal ini menunjukan bahwa masih ada keinginan bersama untuk menuju peradaban yang sehat, menanggulangi lingkungan yang telah rusak diakibatkan oleh alam atau kelalaian manusia dengan menanam bersama.

 

pengangkutan bibit mangrove menuju lokasi penanaman

Lahan pemukiman warga pesisir kota Demak tenggelam akibat abrasi pantai, salah satunya adalah keluarga Mak Jah. Menjadi satu-satunya keluarga yang bertahan sampai sekarang di tengah kondisi abrasi karena faktor ekonomi.

Mak Jah merupakan warga asli yang berjuang untuk tetap tinggal. Dengan segala konsekuensi yang harus dihadapi untuk tetap bertahan hidup ditengah laut, selain berprofesi sebagai nelayan, Mak Jah dan suami juga menjadi petani bibit mangrove. Usahanya ini telah dilakukan sejak awal tahun 2000-an. Mak Jah berkeyakinan bahwa pohon mangrove mampu mengembalikan tanah yang tergerus akibat abrasi.

Selain digunakan untuk penanaman sendiri sebagai usaha untuk meminimalisir dampak abrasi, Mak Jah juga menjual bibit pohon mangrove untuk membantu kehidupan keluarganya. Namun orang-orang masih jarang berkeinginan untuk membeli apalagi untuk menanam.

 

antusiasme relawan menanam pohon mangrove

Dilansir dari foresteract.com Demak tercatat sebagai daerah yang terkena dampak abrasi pantai paling parah se-Jawa Tengah. Salah satu abrasi paling parah terjadi di Kecamatan Sayung. Permasalahan yang timbul pasca tragedi abrasi dirasa cukup berat. Hal ini dikarenakan abrasi telah menurunkan fungsi lahan sebagai pemukiman dan sebagai mata pencaharian warga pesisir. Otomatis abrasi telah menjadi faktor utama menurunya kualitas hidup masyarakat pesisir.

Abrasi tidak bisa dianggap sebagai fenomena alam yang sepele. Potensi bahaya yang dibawa oleh abrasi pantai dapat menimbulkan masalah serius bagi ekosistem pantai dan tidak pula menutup kemungkinan bahwa abrasi menjadi faktor utama menurunya kualitas hak hidup masyarakat menyangkut persoalan lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya pada warga pesisir.

Untuk itu, mari bersama-sama menjaga kelestarian alam dengan menanam,merawat dan menjaga lingkungan untuk masa depan yang lebih baik dengan LindungiHutan. (Erna Rosalina/LindungiHutan)