LH Goes To Banyuwangi: Dari Ojek Manusia Ijen Hingga Pesona Green Bay Yang Tersembunyi #2

Jarak dari Paltuding (gerbang masuk kawasan kawah Ijen) ke TNMB sekitar 31 km. Kami sampai di gerbang TNMB selepas ashar, dengan sedikit ragu apakah perjalanan kali ini benar akan menuntun kita menuju pinggir pantai? Kok kita serasa ada di tengah hutan belantara yang jauh dari laut? *efek nyasar-nyasar mulu, kami lelah di-PHP, huhu*

Dari gerbang, kami dijemput Pak Samsul Aripin, beliau salah satu penyedia jasa wisata di kawasan TNMB. Masuk ke kawasan, kami baru menyadari bahwa ternyata sekilo di kiri kami adalah laut !! Senang sekali mendengar suara ombak, hehe.

*Kami bersama Pak Aripin di depan penginapan*

Penginapan kami berada di dekat Pantai Rajegwesi, salah satu pantai yang terletak di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai ini berpasir coklat akibat endapan lumpur yang dibawa sungai yang bermuara di pantai ini saat banjir. Pantai yang pernah terkena tsunami pada tahun 1994 ini dikelilingi hutan tropis hijau yang masih asri, menambah kebahagiaan kami melihat yang ijo-ijo.

Setelah akhirnya bisa istirahat dan rebahan, jam 19.00 kami makan bersama di pantai. Pak Arifin dan istri memasak ikan bakar untuk kami. By the way, sambal kecap buatan ibu Arifin enak banget.

*Makan bakaran di pinggir laut gini, hmm mantul*

Keesokan paginya, kami jalan-jalan ke Teluk Hijau (Green Bay). Perjalanan ini memakan waktu selama hampir dua jam, melewati jalanan berbatu sejauh satu kilometer, lalu dilanjutkan menapaki tangga menyusuri pinggiran pantai sejauh satu kilometer juga. Cukup melelahkan, apalagi kami semua belum sarapan dan hari sebelumnya habis muncak ke kawah Ijen.

Tetapi sepanjang perjalanan kami semua disuguhi pemandangan yang membuat berdecak kagum atas kuasa-Nya. Pak Arifin juga cukup tanggap menjadi guide kami hari itu, sepanjang jalan beliau bercerita dan menjelaskan sejarah kawasan ini.

*Banyak monyet disini, hayo tebak mereka lagi ngapain berdua diatas pohon gitu?*

*Plang “Habitat Rafflesia”*

Di akhir jalanan berbatu, admin menemukan plang bertuliskan “Habitat Rafflesia”. Wait, habitat Rafflesia? Bukannya bunga bangkai itu cuma ada di Bengkulu??

Ternyata setelah admin baca-baca lagi, faktanya jenis rafflesia tidak hanya terdiri dari satu jenis spesies saja seperti yang kita biasa dengar, Rafflesia arnoldii. Diperkirakan di seluruh Asia Tenggara yang melingkupi Sumatera, semenanjung Malaya, Jawa, Borneo dan kepulauan Filipina terdapat sekitar 27 spesies rafflesia. Adapun 17 spesies diantaranya berada di Indonesia.

*Perjalanan menuju Teluk Hijau, udah keliatan capek belum?*

Rafflesia yang kita temui di TNMB itu adalah spesies Rafflesia zollingeriana, salah satu kerabat R. arnoldii yang tumbuh di hutan dataran rendah. Sayangnya ketika kami kesana, si zollingeriana tersebut belum mekar.

Puas menjenguk kuncup bunga bangkai, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar 20 menit berjalan, suara debur ombak semakin kencang terdengar, wah Teluk Hijau sudah dekat!!

*Kukira Teluk Hijau ternyata Pantai Batu*

*Batu semuaaaaaaaaaaa*

Tapi ternyata suara tersebut bukan dari Teluk Hijau, tetapi Pantai Batu. Pantai yang menjadi tempat singgah sebelum sampai di Teluk Hijau ini dipenuhi batu alih-alih pasir. Mereka akan mengeluarkan suara-suara lembut bila terkena ombak, menjadi hiburan tersendiri bagi para pelancong, termasuk kami.

Kita ngadem sejenak disini sembari mendengarkan penjelasan Pak Aripin mengenai mitos tiga batu di pantai tersebut.

*Byurrrr*

“Jadi dahulu ada sepasang muda-mudi yang saling mencintai tetapi tidak direstui oleh kedua orangtuanya. Lalu, suatu hari ditengah emosi yang memuncak mereka kabur ke pantai batu tersebut. Disana mereka merenung dan berdoa kepada Tuhan agar diberikan jalan terbaik menghadapi masalah mereka itu. Kemudian mereka mengambil tiga batu yang ada disana lalu melemparkan satu persatu batu tersebut ke tengah laut. Setelah emosi mereka mereda, mereka pulang” cerita Pak Aripin kepada kami.

“Lalu apa yang terjadi dengan mereka Pak?” salah satu dari kami bertanya.

“Ketika mereka pulang, orangtuanya merestui hubungan mereka. Tapi inti cerita ini bukan terus batu ini mengandung magis lho ya, saya cerita gini pesan moralnya adalah kalau kita punya masalah yang ga bisa kita selesaikan, kita harus pasrah dan berdoa pada yang Maha Kuasa” lanjutnya.

*lempar batu atau tumpuk batu??*

Kami ngaso di pantai sekitar setengah jam. Disana kami bermain lempar batu, ya bedanya sih hubungan kami ga lagi ditentang sama orangtua, hehe.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju serpihan surga yang kececer di ujung selatan Jawa Timur, Teluk Hijau.

Bersambung lagi.. (Kika)