LH Goes to Banyuwangi: Dari Ojek Manusia Ijen Hingga Pesona Green Bay Yang Tersembunyi #1

LindungiHutan.com, Semarang. Tanggal 6-8 Oktober 2018 lalu, tim LindungiHutan berkesempatan untuk trip ke Banyuwangi, tepatnya ke Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Trip yang diikuti oleh 13 orang tim LindungiHutan dari berbagai divisi ini bertujuan untuk lebih mengakrabkan antar personal tim dan lebih mendekatkan kami dengan alam.

“Perjalanan ini tidak hanya sekedar untuk berlibur saja. Dari perjalanan ini TIM LindungiHutan harus bisa lebih menyelami peran nya masing-masing. Ini lho sebenar-benarnya realita di lapangan. Kita bekerja untuk mereka, untuk membantu kesejahteraan petani bibit, mapun mayarakat secara umum” jelas Mas Hario, CEO LindungiHutan.

Rombongan berangkat dari basecamp (kantor –red) LindungiHutan di Jl. WR Supratman No. 58, Manyaran, Semarang, sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah menempuh perjalanan 16 jam, kami sampai di kawasan TWA Kawah Ijen

.

*Yey masuk Ijen*

Sebelum sampai ke gerbang masuk pendakian Ijen, kami mampir sebentar di Kalipahit, sebuah air terjun yang airnya berasal dari aliran kawah, sehingga ketika kami memasuki area tersebut, bau belerang langsung menyapa hidung kami.

Mungkin penamaan Kalipahit didasarkan dari adanya kandungan belerang di airnya, kami sendiri tidak terpikir untuk iseng nyicipin sih. Atau mungkin karena yang datang kemari terlalu manis, haha. Entahlah.

*Yang pahit disana, yang manis disini*

*Air terjun Kalipahit, Ijen*

Gunung Ijen merupakan gunung berapi jenis stratovolcano yang terakhir meletus pada tahun 1999. Pesona utama pendaki mengunjungi gunung ini ada pada kawahnya. Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat sangat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 Hektar. Danau kawah Ijen juga dikenal sebagai danau air sangat asam terbesar di dunia.

Rencana awal, kami ke Ijen untuk melihat fenomena “blue fire”, yakni semburan api biru yang terjadi ketika kandungan belerang yang begitu besar bertemu dengan panas bumi bertekanan tinggi sehingga terjadilah reaksi oksidasi. Api biru ini hanya terjadi di dua gunung berapi aktif di dunia, yaitu di Islandia dan di Indonesia, tepatnya di Kawah Ijen ini. Namun karena fenomena alam ini hanya muncul antara jam 01.00-04.00 sedangkan jam di tangan sudah menunjukkan pukul 07.30, kami merubah niat dan hanya berniat muncak saja.

*Tim LindungiHutan di Paltuding*

Untuk mencapai atas, kami harus berjalan kaki sejauh 3,5 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalurnya memiliki kemiringan 25-35 derajat. Selain menanjak, struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Setelah beristirahat di Pos Bunder (posnya unik karena bentuknya lingkaran –red), jalur selanjutnya relatif agak landai, namun kami disuguhi pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu sejauh 250 meter dengan kondisi yang terjal.

Tim sampai di puncak sekitar pukul 10.00, lelah yang mengiringi sepanjang jalan serasa sirna ketika melihat indahnya pemandangan di puncak. Bersyukur, bau belerang sudah tidak begitu menusuk hidung sehingga kami bisa sejenak melepas masker.

*Pemandangan dari atas Gunung Ijen*

*Kawah Ijen, done*

Oya, ada hal unik yang kami temui di sepanjang perjalanan naik menuju kawah Ijen. Bagi pendaki yang tidak ingin capek-capek mendaki atau memiliki keterbatasan tapi ngidam banget buat muncak, kalian bisa memanfaatkan jasa ojek manusia. Ya, m-a-n-u-s-i-a!! Bukan pakai motor atau jeep atau apalah, tapi pakai semacam gerobak gitu, dan didorong 2-4 orang.

Salah satu tukang ojek yang admin temui, Bang Rafa, menuturkan bahwa awalnya para pengojek adalah penambang belerang di kawah Ijen, lalu melihat adanya peluang di bidang angkut-mengangkut para pendaki di jalur Ijen tersebut dan didukung oleh pihak BKSDA menjadikan makin banyaknya pengojek disana. Diperkirakan ada sekitar 30an pengojek yang terdaftar di Ijen.

*Penambang belerang di Kawah Ijen, beberapa diangkut dengan gerobak, ada pula yang dipanggul seperti ini*

*Capek? Ngojek aja bro*

Tarif ojek untuk perjalanan PP dipatok sebesar 800 ribuan. Untuk single trip, naik saja sebesar 650 ribu sedangkan untuk turun sebesar 250 ribu. Harga yang cukup mahal, tetapi tidak sebanding dengan tenaga yang mereka keluarkan dengan medan se-ekstrim itu.

Puas mengeksplor kawasan kawah Ijen, sekitar pukul 11.00 kami turun untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke TNMB.

Bersambung (Kika)