Lembah Baliem, Lembah Eksotis Di Pegunungan Papua

Lembah Baliem, Lembah Eksotis Di Pegunungan Papua

LindungiHutan.com, Semarang. Apa yang terbersit di benak Sahabat ketika mendengar kata Papua?

Apakah rimbunnya pepohonan di hutan yang konon katanya masih sangat alami? Atau birunya laut dan aneka wisata underwater-nya yang bagaikan surga bagi para penyelam? Atau malah aneka hewan khas dan suku asli yang masih menjaga tradisi para leluhurnya?

Bukan Raja Ampat, Danau Sentani, atau Teluk Cendrawasih yang akan kita bahas pada tulisan kali ini. Karena Papua indah bukan hanya lautnya, maka kali ini mari kita jalan-jalan ke daerah pegunungannya.

Pegunungan Jayawijaya terkenal sebagai pegunungan tertinggi di Indonesia, dengan puncaknya yang tertinggi yaitu Puncak Jaya (4.884 meter dari permukaan laut). Selain Puncak Jaya, pegunungan ini juga memiliki beberapa puncak yaitu Mandala, Trikora, Idenberg, Yamin, dan Cartenz.

Foto: Boredpanda

Di kawasan Pegunungan Jayawijaya juga terdapat lembah yang sangat indah, Lembah Baliem namanya. Lembah yang berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut ini menghadirkan pemandangan Jayawijaya yang indah dan masih alami. Suhu disini bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam.

Lembah yang dikenal juga sebagai grand baliem valley ini merupakan tempat tinggal suku Dani, Suku Yali dan suku Lani. Mereka hidup berdampingan dengan populasi sekitar 100.000 jiwa.

Setiap bulan Agustus, Lembah Baliem menjadi tempat wisata di Papua yang menarik banyak perhatian wisatawan. Selama tiga hari diselenggarakan acara tahunan yaitu Festival Lembah Baliem. Pada tahun ini, Festival Lembah Baliem baru saja diadakan tanggal 8-10 Agustus lalu.

Foto: Kompas Travel

Festival ini sebenarnya merupakan cara pemerintah untuk menghapuskan perang antar suku yang sering terjadi di sini. Perang antar suku telah dilarang, sebagai gantinya diadakan festival ini yang mengubah perang tersebut menjadi pertunjukan seni dan budaya untuk mengundang wisatawan.

Dalam perang di festival ini, ada skenario yang dijalankan. Biasanya perang akan diawali dengan penculikan perempuan salah satu suku, atau pencurian babi yang menjadi hewan ternak di sini. Selanjutnya, perang akan berlangsung dengan diawali tarian suku oleh 1.000 penari yang berasal dari tiga suku besar di dataran tinggi Wamena dan Lembah Baliem, yaitu suku Dani, Lani, dan Yali.

1.000 penari tersebut akan membawakan Tari Perang yang sudah terkenal, dan dibagi dalam 26 kelompok besar. Setiap kelompok terdiri dari 30-50 penari.dan diiringi musik tradisional bernama Pikon. Pikon merupakan alat musik yang terbuat dari kulit kayu. Suara khas akan dikeluarkan oleh Pikon kala ditiupnya. Suaranya merdu bahkan menenangkan.

Foto: Baliemfestival.com

Selain perang, ada juga lomba karapan babi antar desa dan pesta babi bakar. Anda juga bisa membeli kerajinan tangan hasil karya suku setempat.

Festival ini merupakan spot terbaik untuk mempelajari keindahan alam, budaya, dan kuliner Papua yang luar biasa kaya. Semoga dengan antusiasme pengunjung yang hadir, kekayaan Papua akan semakin terjaga. Yuk nabung buat kesana~ (Kika)

 

Referensi: Aneka, Detik, IDN Times

Leave a Reply