Harimau, Si Kucing Besar Yang Terancam Hanya Jadi Legenda Di Indonesia

LindungiHutan.com, Semarang. Harimau adalah jenis kucing terbesar di muka bumi, lebih besar daripada singa. Ia juga merupakan kucing tercepat kedua dalam berlari, setelah cheetah. Dalam keseluruhan karnivora, harimau adalah kucing karnivora terbesar dan karnivora terbesar ketiga setelah beruang kutub dan beruang coklat.

Hewan ini tersebar di Rusia hingga Asia Tenggara. Dan Indonesia wajib bersyukur karena tiga dari sembilan sub-spesies mereka ada di Indonesia, ya meskipun dua diantaranya sudah dinyatakan punah sih.

 

Harimau Sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered).

Foto: Merdeka.com

Ia memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini. Warna kulit Harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

Berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi Harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 individu saja. Satwa ini menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan ilegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat, dan dekorasi.

Pekan lalu, ditemukan seekor harimau sumatera yang mati karena terkena jerat di Riau, dan mirisnya harimau tersebut sedang hamil DUA bayi harimau !! Kedua calon harimau muda itupun tidak dapat diselamatkan, padahal diprediksi keduanya tinggal menunggu hari untuk lahir ke dunia.

 

Harimau Jawa

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) adalah sub-spesies harimau endemik pulau Jawa. Harimau yang ukurannya lebih kecil dibandingkan jenis harimau lain ini telah dinyatakan punah di sekitar tahun 1980-an, akibat perburuan dan alih fungsi habitatnya menjadi lahan pertanian dan pemukiman.

Diyakini pada jaman dahulu, harimau ini menghuni seluruh kawasan di Jawa.

Pada pertengahan 1800-an sampai pertengahan 1900-an pembukaan area pertanian, perkebunan dan hutan tanaman yang disponsori oleh pemerintah kolonial Belanda telah mendesak habitat satwa ini. Pembukaan lahan pertanian di Brebes dan Banyumas, Jawa Tengah dilaporkan telah membunuh ratusan harimau per tahunnya.

Orang-orang lokal menganggap harimau ini sebagai hama dan mengusir mereka ke daerah-daerah pegunungan terpencil, termasuk salah satunya di wilayah hutan pegunungan Meru Betiri di Jawa Timur. Banyak yang meyakini bahwa satwa ini masih tersisa, namun belum ada bukti yang kuat mengenai hal tersebut.

 

Harimau Bali

Harimau Bali (Panthera tigris balica), atau samong dalam bahasa lokal, adalah sub-spesies harimau yang dinyatakan sudah punah. Ia adalah satwa endemik pulau Bali dan bersama dengan harimau jawa, merupakan sub-spesies harimau yang telah dinyatakan punah.

Foto: Bacaterus

Sub-spesies ini merupakan yang terkecil dari ketiga subspesies harimau Indonesia. Harimau Bali terakhir kali ditembak mati pada tahun 1925 di Sumber Kima, Bali Barat, dan resmi dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937.

Pulau Bali yang kecil dan tutupan hutannya yang terbatas, membuat para ahli meyakini bahwa populasi satwa ini tak pernah besar. Seluruh foto satwa ini sudah dalam keadaan mati ditembak, menandakan bahwa kepunahannya diduga akibat perburuan yang terus menerus, selain karena faktor hilangnya habitat akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian dan pemukiman.

 

Duh sayang sekali ya Sahabat dua sub-spesies harimau tersebut harus punah karena manusia. Mari kita benar-benar jaga sisanya agar anak cucu kita masih bisa mengetahui secara langsung, bukan cuma jadi legenda. Salah satu aspek penting untuk menjaga agar hewan-hewan yang terancam punah tidak menjadi punah adalah terus mengembang biakan spesies yang terancam punah serta menjaga kelestarian alam dan menghukum berat para pemburu liar. (Kika)

 

Referensi: Mongabay, WWF