Dunia Darurat Api : Kebakaran Hutan, Siapa Penyebabnya

Berita mengenai kebakaran hutan akhir-akhir ini tidak habis disebarluaskan. Permasalahan kebakaran yang terjadi di Hutan Amazon belum selesai. Tetapi berita lain datang dari Siberia dan negara kita tercinta Indonesia.

Deforestasi terjadi dikarenakan adanya kebijakan pembukaan lahan baru untuk pengelolaan pertambangan, peternakan dan lading pertanian. Namun karena ijin pembukaan lahan dilakukan dengan sembrono dan beresiko.

Tidak jarang pembakaran hutan dilakukan secara illegal tanpa perijinan pemerintah. Tetapi ditemukan dilapangan tidak sedikit pemerintah yang tebang pilih mengenai permasalahan tersebut.

Mereka berkilah bahwa membuka lahan baru dengan alih teknologi membutuhkan anggaran peralatan yang tidak sedikit serta dengan harga mahal. Sayangnya dengan cara pembakaran hutan beresiko menghanguskan wilayah yang lebih besar.

Terdapat fakta lain yang menjadi penyebab dari kebakaran hutan. Musim kemarau, fenomena El Nino, badai petir dengan suhu mencapai 30o menjadi salah satu faktor alam.

Fakta menarik pemicu penyebab kebakaran ternyata bukan hanya dari korek pematik api, tetapi juga cermin. Pantulan cahaya dari benda yang dapat merefleksikan panas matahari akan mengenai dahan kering. Selain itu gesekan kulit pohon kering secara terus menerus juga menjadi penyebab lainnya.

Dua kejadian tersebut  terjadi jika panas matahari sangat terik dengan kelembapan yang rendah. Meskipun demikian jarang sekali hal ini terjadi di Indonesia karena tingkat kelembapan hutan yang relative tinggi.

Hutan di Indonesia

Kebakaran hutan di Indonesia sepertinya sudah menjadi insiden tahunan yang masih belum menemukan titik terang. Tindakan penanggulangan sepertinya belum dapat dilakukan untuk menghindari kebakaran hutan. Sedangkan upaya serta pencegahan terkesan lambat dilakukan secara optimal.

Pada Juli – Agustus tahun 2018 tercatat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, terdapat 169 titik panas di seluruh Sumatera. Titik api tersebar di Riau, Sumsel, Bangka Belitung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi serta Lampung.

Menko Polhukam Wiranto yang diwawancarai (8/’18) menjelaskan mengenai total titik api. Cangkupan titik api ditahun 2018 lebih kecil dibanding tahun 2017.

Juli 2017 terdapat total 2567 titik api di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Sementara Juli 2018 total titik api sebanyak 1077 titik api.

Hary Tirto Djatmiko dari BMKG menyebutkan musim kemarau tahun 2019 diprediksi akan lebih kering dan panas ditahun sebelumnya. El Nino menjadi penyebab Indonesia mengalami pengurangan curah hujan. El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu air laut yang terjadi di kawasan sebelah timur Samudera Pasifik.

BMKG membagi tiga kategori kekeringan yang tersebar di wilayah Indonesia menjadi Awas, Siaga, dan Waspada. “Kemungkinan ketersediaan air tanah yang berkurang serta potensi mudahnya terjadi kebakaran”, ucap Hary.

Wilayah yang dikhawatirkan berpotensi kebakaran adalah kawasan di kategori Waspada. Diantaranya adalah Aceh, Jambi, Lampung, Kalimatan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.